Spiritualitas

Category: About Published: Sunday, 10 November 2013

DITANTANG

Br. Blas  Navarrete Bezares (Astorga, Spanyol)

 

   Ditantang oleh dunia, kita bersatu untuk hidup.

Sebelum  konsili Vatikan II, perspektif kehidupan religius berbeda dari sekarang. Kalau dinilai kembali identitas kehidupan religius sebelum konsili, terkesan hanya untuk kaum elite, ia berbentuk

 

suatu persekutuan yang menutup diri dengan tujuan untuk mencapai kesempurnaan pribadi; dan sering kali ini alasan saja. Mereka yang menjalani novisiat pada pertengahan tahun 60-an pasti masih ingat yang diajarkan pada waktu itu adalah bahwa tujuan institut adalah kemuliaan Allah dan pengudusan para anggotanya. Definisi ini kemudian disusul oleh sejumlah komentar tentang karya dan kerasulan yang menjadi tujuan pendirian kita.

 

  Di dalam Gereja pasca konsili, kehidupan religius tidak lagi disajikan sebagai sesuatu yang sempurna, melainkan sebagai suatu perjalanan yang memberi peluang kepada umat beriman untuk bertumbuh dalam cinta kasih dan kekudusan. Bahkan; konsep mengikuti Kristus makin muncul sebagai norma yang paling mutakhir dan penting bagi semua komunitas religius, jadi tidak cukup untuk hanya secara simpel mengikuti sejumlah peraturan yang menjadi dasar kerjasama antara semua bruder dalam kongregasi kita sebagai pengikut Glorieux. Kita berbagi dalam suatu misi dan panggilan kenabian bersama ikatan, hal ini jauh lebih mendalam daripada sekedar membagi tugas yang sama. Spiritualitas berkaitan dengan iman, mengasihi Kristus dan bagaimana merealisir pengalaman bersama kita yaitu bagaimana kita terpesona oleh Glorieux da cita-citanya. Saat ini kongregasi kita mulai punah dan kalau kita berbicara tentang spiritualitas sang Pendiri, maka banyak orang awam berpikir bahwa para bruder menyimpan harta ini dalam koper mereka, dan harta itu akan lenyap bersama para bruder dalam momen sejarah ini.

Cirri–ciri dari pendiri kita adalah Iman dan Belas Kasih, dan ciri–ciri ini harus tetap berdetak dalam setiap jantung komunitas dan jantung setiap bruder secara pribadi.

 

Tetapi yang penting sekarang adalah menilai kehidupan spiritual kita dalam arti kata sempit, yaitu berkaitan dengan kharisma kita dan bagaimana kita bekerja sama dengan lebih efektif demi kerajaan dan di dalam pangkuan bruder-bruder Santa Maria dari Lourdes.

Persoalan yang saya maksud adalah kewajiban kita untuk mengembangkan sebuah spiritualitas yang lebih dinamis, hidup, terbuka, dengan tuntutan-tuntuan yang tinggi, matang dan mendalam, untuk menjadi pendidik yang luhur dalam konteks kehidupan yang diabdikan kepada Allah, baik didalam rumah-rumah kita maupun cara bagaimana kita menampilkan diri demi semua orang dan kelompok yang mengelilingi kita.

 

   Beberapa sikap dasar yang saya anggap asasi dan yang harus kita pertahankan untuk bisa mengamankan suatu perubahan yang positif dan efektif untuk masa depan, dan yang pasti akan muncul dalam usul-usul berbobot kapitel terakhir adalah :

 

    * Menghayati panggilan religius kita yang begitu indah dan subur, dengan penuh imajinasi, ketekunan , semangat dan optimisme.

    * Senantiasa hidup dengan sikap pandai; doa dan iman, sembari taat kepada sabda, setia kepada kharisma, penghayatan persekutuan, kapasitas untuk saling membagi, menafsirkan dengan baik tanda-tanda zaman dan pengingkaran kepentingan-kepentingan lain dan pribadi.

    * Membatinkan sikap Maria: semangat persaudaraan, mendengarkan sesama bruder dengan penuh perhatian, sederhana dan tegas dalam kelakuan kita, berani mengakui keterbatasan-keterbatasan sendiri.

    * Memihak kepada yang miskin, pembaharuan pengalaman-pengalaman spiritual, perembukan dan partisipasi.

    * Penghayatan kharisma kita berdasarkan keyakinan bahwa Glorieux mendorong dan mengundang kita untuk mengarungi samudera dengan penuh keberanian dan kreatifitas.

 

 

 

    Kita tidak bisa menjauhkan diri dari proses pembaharuan dan  penggairahan yang tidak terelakkan sekitar tantangan-tantangan yang berkaitan dengan penginjilan yang baru, dan inkulturasi Injil. Proses globalisasi ini menyentuh kita semua, walaupun hal itu harus dijalankan dengan mempertahankan visi, dengan memperhatikan makna dan batas-batasnya.

Kita tidak boleh membatasi diri pada sekedar membaca tanda-tanda zaman lalu menghitung apa yang paling cocok untuk setiap provinsi. Kita juga harus bersedia untuk merealisir proyek-proyek sosial dan pastoral yang dibutuhkan saat ini, melibatkan diri dalam situasi-situasi yang tidak diperhatikan dunia dan tanpa syarat dan penuh keberanian, memperhatikan kemiskinan baru, khususnya di daerah-daerah yang paling dilalaikan (Ethiopia, dan Brazil)

 

   Mungkin saya sebagai anggota muda Kongregasi, terkesan  ‘sombong ‘ karena membahas masa depan kongregasi. Bukan maksud saya untuk berlaku seperti nabi dan mengemukakan visi-visi yang yakin tentang bagaimana kita harus hidup sebagai bruder di abad ke XXI ini. Saya hanya ingin membagi visi saya tentang suatu cara hidup, dan keprihatinan saya tentang karisma dan spritualitas kita.

Masa depan itu hanya ada kalau kita menghormati masa lampau kita dan menerima kenyataan masa kini sebagaimana adanya. Maksudnya, kalau kita mengindahkan asal usul kita, akar kita, sejarah dan tradisi-tradisi spiritual kita, mempelajarinya untuk mengetahuai siapa kita ini dan bagaiman kita berkembang menjadi sebagaimana adanya sekarang. Dan studi ini tidak hanya harus dilakukan oleh para pakar dan berbagai komisi, melainkan oleh setiap komunitas dan setiap bruder. Tidak akan ada masa depan kalau kita menyangkal masa lampau yang membentuk kita dan yang mempunyai pengaruh yang menentukan atas identitas kita.

 

    Tantangan yang dihadapi tidak terletak dalam mempertahankan masa lalu melainkan dalam cara bagimana mengartikan kharisma khas kita agar dengan demikian bisa menghayatinya sambil mengarahkan diri pada masa depan, lalu mengembangkannya berdasarkan sebuah kesetiaan kreatif kepada pesannya yang orisinil dan unik, yang tidak pernah berubah. Cara pengungkapan dan penghayatan kharisma harus berubah dengan berjalannya waktu. Tetapi kharisma itu sendiri tidak bisa berubah. Menurut saya itu salah satu tantangan masa depan terpenting Kongregasi: memulai, medukung dan mengevaluasi proses perubahan dan  pertumbuhan, sejalan dengan definisi yang di berikan kongregasi kepada misinya. Ini membutuhkan kreatifitas yang besar, banyak energi dan kesabaran bagi mereka yang terlibat didalamnya.

 

    Tolok ukur Allah bukan kesempurnaan, dan juga bukan keberhasilan atau sukses melainkan bahwa kita setiap hari memperbaharui tekad kita untik menjawab panggilan-Nya untuk mengikuti Dia dalam kehidupan yang sejati ini, yang bisa memenuhi idaman hati yang sedalam-dalamnya. Seperti dikatakan oleh Karl Rahner, orang Kristen masa depan adalah seorang mistikus, seseorang yang memenuhi kebutuhanya dengan suatu relasi yang hidup dengan dengan Allah, atau ia bukan apa-apa. Apa yang ditawarkan oleh masyarakat-masyarakat modern kita yang sangat condong kepada konsumsi materi, produktifitas, efisiensi, konkurensi, ketidakadilan, hiperaktifitas/keresahan, stress… tidak bisa meredakan kehausan akan suatu kehidupan yang sungguh-sungguh bermakna. Orang terpaksa membayar mahal untuk bisa bergabung dengan suatu sekte atau gerakan eksoteris yang tampak berkembang di berbagai tempat di dunia ini, suatu gejala yang belum tampak sebelumnya.

 

    Beberapa orang mengira bahwa kita orang-orang religius sedang menempuh jalan yang salah, bahwa kita kehilangan arah. Saya bertanya-tanya: bukankah normal bahwa kita kadang-kadang menelusuri jalan yang berbatu dan berdebu? “ Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku “ (Mzm 23)

Harus tampak bagi orang luar bahwa spiritualitas dan kualitas kehidupan kita bertumbuh, bukan menurut ukuran duniawi, tetapi dalam arti kata suatu kebahagiaan mendalam yang bersumber pada suatu sikap hidup yang mengarah kepada Allah dan rasa aman dalam cinta kasih Allah.

 

   Oleh karena itu menurut saya tugas pertama kita adalah untuk mengerahkan energi, waktu dan talenta-talenta pribadi untuk mengembangkan relasi kita dengan Allah kehidupan dan cinta kasih. Pertumbuhan manusiawi dan spiritual kita, begitu pula masa depan kita sebagai kongregasi, tergantung bagaimana kita sebagai individu maupun komunitas memberi isi kepada relasi intim kita dengan Allah, agar ia bisa membentuk kita sesuai citra Kristus yang melalui kita memberi sumbanganNya demi keselamatan Gereja dan dunia ini. Keyakinan ini akan diiringi oleh proses-proses menyakitkan, malam-malam yang kelam dan pengalaman-pengalaman  “gurun pasir“, tetapi walau demikian kita tidak boleh memalingkan wajah dari janji Allah bahwa Ia berbelas kasih, dan idaman hati terdalam kita untuk mewujudkan suatu kehidupan religius yang otentik dan subur.

Hits: 7927

Statistic

Articles View Hits
138450

Web Links